Contoh kasus penyakit periodontal
A. Skenario
1
1. Pemeriksaan
Subjektif
a. CC : Datang kembali setelah mendapatkan
perawatan scaling 1 minggu yang lalu.
b. PI : Pertama kali datang Danti mengalami
pembengkakan gusi di gigi depan rahang atas dan rahang bawah. Keadaan tersebut
dirasakan sejak 2 bulan yang lalu ketika Danti mulai sering merasakan gusi berdarah dan bau mulut karena kesulitan
ketika membersihkan gusi. Saat ini tidak ada perubahan pada kondisi gingiva
Danti.
c. PDH : Satu minggu yang lalu mendapat perawatan
scaling. Danti menggunakan fixed orthodontics appliance. Pemberian oxyfresh 2
kali sehari untuk mengurangi peradangan.
d. PMH : Tidak ada keterangan
e. FH : Tidak ada keterangan
f. SH : Tidak ada keterangan
2. Pemeriksaan
Intraoral
Terdapat
pembengkakan pada region anterior rahang atas dan bawah. Perdarahan saat
probing masih terjadi dan masih terlihat penumpukan kalkulus dan plak tipis di
permukaan gigi anterior rahang atas dan bawah. Kedalaman poket pada region
anterior RA dan RB sekitar 4-6 mm dengan level of attachment 2-4 mm.
Gambar
1.1 Intraoral pasien 1 minggu setelah prosedur scaling
3. Pemeriksaan
Radiografi
Pemeriksaan
radiografi menunjukan tulang alveolar yang utuh dan lamina dura utuh.
4. Differential
Diagnosis
a. Chronic
inflammatory enlargement et causa fixed orthodontic appliance
Tampak pembengkakan pada interdental
papilla dan marginal gingiva. Pembengkakan dapat terus melebar atau membesar
hingga menutupi sebagian mahkota gigi. Pembengkakan dapat terjadi secara lokal
dan general. Proses perkembangan pembengkakan terjadi secara lambat dan tidak
terdapat rasa sakit. Pembengkakan terjadi karena paparan yang lama terhadap
plak. Plak atau akumulasi plak yang cukup banyak dan lama. Umumnya akumulasi
plak terjadi karena kebersihan mulut atau oral hygine buruk, penggunaan alat
orthodonti dan iritasi yang disebabkan restorasi. Karakteristik dari
pembengkakan ini adalah tidak bertangkai (Newman, 2012).
b. Idiopatik
fibromatosis
Pembesaran gingiva yang terjadi pada
attached gingiva, margin gingiva dan interdental papillae baik lingual atau
fasial rahang atas dan rahang bawah. Pembesaran pada gingiva berwarna merah
muda, lunak dan konsistensi seperti kulit. Mahkota dapat hampir tertutup pada
kondisi yang parah. Penyebab terjadinya idiopatik fibromatosis masih belum
diketahui dan beberapa kasus termasuk herediter. Umumnya pembesaran terjadi
saat erupsi gigi dan berkurang setelah ekstraksi. Hal ini menunjukan adanya
faktor pencetus berupa plak. (Newman dkk., 2012).
c. Drug
induced gingival enlargement
Pembesaran pada papilla interdental yang
dapat berlanjut ke daerah facial dan lingal/palatal gingiva. Pembesaran
disebabkan karena obat seperti anticonvulsants, imunosupresants, dan calcium
channel blockers (Newman dkk, 2012).
d. Gingival
enlargement et causa deficiency vitamin C
Pembesaran pada gingiva, berwarna merah
dengan permukaan mengkilat dan halus. Pembesaran disebabkan kekurangan vitamin
C dan adanya akumulasi plak. Umumnya tampak area yang mengal, berwarna merah
dengan permukaan mengkilat dan halus. Pembesaran disebabkan kekurangan vitamin
C dan adanya akumulasi plak. Biasanya terdapat area yang mengalami nekrose
permukaan (Newman dkk., 2012).
5. Diagnosis
Chronic inflammatory
enlargement
6. Pembahasan
yang berisi analisa penentuan diagnosis
Chronic
inflammatory enlargement menjadi diagnosis karena sesuai dengan kondisi pada
kasus. Pembesaran gingiva pada kasus terjadi dikarenakan penumpukan plak. Hal
ini terjadi karena pasien menggunakan alat orthodontic sehingga kesulitan dalam
membersihkan gusi atau rongga mulut. Pembesaran terjadi di daerah interdental
dan margin gingiva. Diagnosis ini juga diperkuat dengan adanya pemeriksaan
radiografi yang menunjukan tidak adanya resopsi tulang dan lamina dura masih
utuh. Idiopatik fibrosis tidak terpilih menjadi diagnosis karena penyebab
penyakit pada kasus telah diketahui karena adanya plak, dan bukan herediter.
Hal ini diketahui karena tidak terdapat keterangan bahwa keluarga mengalami hal
serupa.
Drug
induced gingival enlargement tidak terpilih menjadi diagnosis karena pada kasus
tidak didapatkan keterangan bahwa pasien mengkonsumsi obat tertentu dan umumnya
bila terinduksi obat pembesaran terjadi merata. Gingival enlargement et causa
deficiency vitamin C juga tidak terpilih menjadi diagnosis dikarenakan, pada
kasus, pasien tidak memiliki keterangan kekurangan vitamin C atau kesulitan
memakan sayur dan buah.
7. Prognosis
Prognosis dalam kasus ini adalah good
atau baik. Hal ini dikarenakan pasien kooperatif, kondisi tulang pendukung
alveolar kuat, tidak resopsi. Dan tidak terdapat kegoyahan pada gigi (Newman
dkk., 2012).
8. Rencana
perawatan
a. Fase
1
Scaling root planning untuk menghilangkan
plak dan kalkulus. Pemberian obat kumur Oxyfresh, digunakan 2 kali sehari, Pemberian
medikamentosa berupa NSAID guna mengurangi rasa sakit setelah scaling
b. Evaluasi
Evaluasi perawatan pada fase 1 apakah
sudah berjalan dengan baik. Pemeriksaan pada permukaan gigi untuk melihat ada
atau tidaknya kalkulus, resesi pada jaringan lunak dan attach gingiva.
Perawatan tidak dapat dilakukan selama masih terdapat akumulasi plak, kalkulus
dan peradangan. (Newman dkk., 2012).
c. Fase
IV
Pemeriksaan atau evaluasi kembali untuk
melihat apakah jaringan siap untuk dilakukan tindakan bedah. Tidak terdapat
akumulasi plak dan kalkulus. Tidak terdapat peradangan pada gingiva dan
jaringan fibrous, kenyal (Newman dkk., 2012).
d. Fase
II
Gingivektomi pada kasus dilakukan untuk
menghilangkan poket gingiva. Prosedur ini dilanjutkan dengan gingivoplasty guna
membentuk kontur fisiologis gingiva agar mencegah kambuhnya penyakit.
Gingivektomi yang dilakukan pada kasus memiliki indikasi berupa hyperplasia
jaringan dalam kondisi fibrous. Kontraindikasi pada prosedur gingivektomi
adalah kedalaman poket lebih apikal dari mukogingival junction, indikasi
perawatan cacat infraboni, gingiva cekat atau keratin tidak tersedia (Fedi
dkk., 2012).
e. Fase
IV
Melakukan evaluasi kembali dan memantau
proses penyembuhan. Probing selama proses penyembuhan dapat dilakukan pada
minggu ke 7 agar tidak merusak proses penyembuhan
B. Skenario
2
1. Pemeriksaan
subjektif
a. CC : Kunjungan kedua setelah 1 minggu yang
lalu melakukan perawatan.
b. PI : Pasien sebelumnya mengalami kegoyahan
pada gigi belakang kanan atas. Gigi belakang kanan bawahnya berlubang besar dan
menjadi tidak nyaman jika digunakan untuk mengunyah.
c. PDH : Satu minggu yang lalu mendapatkan
perawatan scaling dan root planning serta instruksi menggunakan obat kumur
minosep.
d. PMH : Tidak ada keterangan
e. FH : Tidak ada keterangan
f. SH : Pasien sering mengunyah sebelah kiri
2. Pemeriksaan
Intraoral
Hasil
pemeriksaan menunjukan adanya gigi 16 yang goyah derajat 2 dan terlihat
penumpukan kalkulus di gigi 14, 15, 16 dan 17. Terlihat juga penumpukan pada
kalkulus pada gigi 44, 45, 46 dan 47. Kedalaman poket pada gigi 44 – 47 sekitar
2 – 4 mm dengan loss of attachment sebesar 3 – 4 mm. Tidak terlihat kegoyahan
selain pada gigi 16. Saat ini tampak penumpukan kalkulus dan plak tipis pada
permukaan gigi posterior atas kanan dan bawah kanan, kegoyahan pada gigi 16
hanya mengalami sedikit perbaikan. Kondisi gingival tidak mengalami perubahan.
Gambar
1.2 gambaran intraoral 1 minggu paska scaling (a). permukaan labial; (b).
permukaan palatal
3. Pemeriksaan
Radiografi
Pemeriksaan
radiografi periapikal untuk gigi 16 terlihat ada penurunan tulang alveolar di
sebagian mesial dan distal dengan pola horizontal sehingga hanya tersisa tulang
alveolar setengah permukaan akar.
4. Differential
Diagnosis
a. Periodontitis
Kronis
Gambaran umum dari periodontitis kronis
adalah berupa akumulasi plak yang berhubungan dengan formasi kalkulus,
peradangan pada gingiva saat di probing atau BOP, terdapat poket, kehilangan
perlekatan dan kehilangan tulang alveolar. Akumulasi plak terdapat di
supragingiva dan subgingiva. Umumnya gingiva membengkak dan berwarna merah
magenta dan tidak terdapat stippling. Penampakan gambaran radiografi pada
periodontitis kronis adalah hilangnya lamina dura, pelebaran periodontal space
dan menurunnya tulang alveolar. Proses terjadinya periodontal ini berlangsung
lama. (Newman dkk., 2002)
b. Periodontitis
agresif
Periodontitis agresif memiliki gambaran
klinis berupa kehilangan perlekatan dan terbentuk poket periodontal.
Pemeriksaan radiografi menunjukan resopsi tulang alveolar (Reddy, 2006).
5. Diagnosis
Periodontitis kronis
6. Pembahasan
yang berisi analisa penentuan diagnose
Periodontitis
kronis terpilih menjadi diagnosis karena sesuai dengan kondisi pasien pada
kasus 2. Pasien memiliki kalkulus dan akumulasi plak yang cukup banyak pada
gigi region posterior rahang atas dan bawah kanan. Tampak kegoyangan gigi
derajat 2 pada gigi 16 dan resopsi tulang dengan pola horizontal pada pemeriksaan
radiografi. Hal ini sesuai dengan ciri dari periodontitis kronis yaitu adanya
poket, kehilangan perlekatan dan kehilangan tulang alveolar. Akumulasi plak
terdapat di supragingiva dan subgingiva. Umumnya gingiva membengkak dan
berwarna merah magenta dan tidak terdapat stippling. Gambaran radiografi pada
periodontitis kronis adalah hilangnya lamina dura, pelebaran periodontal space
dan menurunnya tulang alveolar. Periodontitis agresif tidak dipilih menjadi
diagnosis karena umumnya dengan akumulasi plak yang sedikit terjadi kerusakan
jaringan periodontal yang parah dan berlangsung cepat, dialami orang berusia
kurang dari 30 tahun.
7. Prognosis
Prognosis kasus ini adalah fair atau
sedang. Hal ini dikarenakan pada kasus telah terjadi kegoyahan gigi derajat 2,
furcation involvement grade 1, resopsi tulang alveolar, pasien kooperatif.
Kooperatif pasien ditandai dengan bersedia datang kunjungan kedua (Newman dkk., 2012).
8. Rencana
Perawatan
a. Fase
I
Perawatan yang telah dilakukan adalah
scaling dan root planning dan pemberian obat kumur minosep. Memperbaiki
tumpatan yang overhanging dan menumpat gigi yang berlubang.
b. Evaluasi
Evaluasi dilakukan terhadap hasil
perawatan fase 1. Pada fase ini dilakukan pemeriksaan terhadap plak, restorasi
yang tidak sempurna dan adanya peradangan. Perawatan tahap selanjutnya tidak
dapat dilakukan bila hasil evaluasi terhadap fase 1 belum berhasil.
c. Fase
IV
Fase ini dilakukan perawatan agar
jaringan siap menuju tahap pembedahan. Selama fase ini diharapkan tidak
terdapat plak dan kalkulus. Kondisi jaringan periodontal tidak dalam peradangan
dan restorasi dalam keadaan baik.
d. Fase
II
Pembedahan dilakukan dengan pembuatan
flap untuk membuka gingiva agar mendapat visualisasi dan akses yang baik. Flap
digunakan dengan teknik full thicknes kemudian lakukan scaling dan root planning
untuk membuang plak dan kalkulus yang dalam. Aplikasikan bone graft atau enamel
matriks protein untuk membantu pertumbuhan tulang alveolar. Kembalikan flap
dengan posisi yang benar dan lakukan suturing. Indikasi flap pada kasus adalah
adanya poket supraboni dengan kedalaman sedang hingga moderat dan region anterior
yang memiliki pertimbangan estetik. Kontraindikasi pada flap adalah kurangnya
daerah jaringan berkeratin, adanya poket palsu dan cacat tulang yang
membutuhkan koreksi (Fedi dkk., 2012). Splinting dibutuhkan dalam perawatan
kasus 2 untuk mengontrol mobilitas dan menopang jaringan yang lemah. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu gigi berfungsi dengan baik dan membantu proses
pemulihan luka (Manson, 2013).
e. Fase
IV
Fase ini dilakukan perawatan dan
pemantauan terhadap proses penyembuhan jaringan serta menjaga kebersihan mulut
pasien. Satu minggu setelah operasi dapat dilakukan pelepasan jahitan. Evaluasi
restorasi, mobilitas gigi, status gingiva dan jaringan periodontal. Pemeriksaan
radiografi dilakukan untuk menentukan proses penyembuhan dan waktu kunjungan
(Newman dkk., 2012).
Daftar
pustaka
Fedi,
P. F., Vernino, A. R., Gray, J. L., 2012, Silabus
Periodonti, EGC, Jakarta.
Manson,
J. D., 2013, Buku Ajar Periodonti,
EGC, Jakarta.
Newman,
M. G., Takei, H. H., Carranza, F. A., 2002, Carranza’s
Clinical Periodontology, Elsevier, Philadelpia.
Reddy,
S., 2006, Essential of Clinical
Periodontology and Periodontics, Jaypee, New Delhi.