Jumat, 04 Juli 2014


Juli 2014. saat ini sedang hits mengenai pilpres.. ya.. pilpres. calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih untuk memimpin Indonesia 5 tahun kedepan adalah pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowo-JK. semua orang dari anak-anak sampai nenek-nenek, tukang bakso sampai konglomerat membicarakan kedua pasangan ini. bahkan orang yang cuek, ngga ngerti dan masa bodo hingga paham beneran kini mulai berbincang tentang kedua pasang cawapres tersebut. tiap hari dikoran, berita dan sosial media mengangkat perbincangan pilpres 2014. ada yang menjelekkan, menghujat, memfitnah, ada yang netral, dan tentu saja ada yang tetap santai nonton acara tv lain seperti ganteng-ganteng serigala atau catatan hati seorang istri... nah loh, kok malah ganti topik. hehe oke yang terakhir tadi sepertinya tidak perlu dibahas lebih jauh. semua orang ingin berperan aktif dalam pilpres tahun 2014.. malah sepertinya ini pilpres paling seru sepanjang sejarah. tiap ada berita atau kabar tentang salah satu calon presiden di media sosial... langsung sikat.. komentar semnagat sampai pedas menghina masuk dari berbagai penjuru. bahkan banyak yang tidak kenal atau tidak mengetahui, siapa yang berkomentar. tiba-tiba aja nongol.

sebenarnya sih seneng semua orang jadi ingin tahu, dan berperan aktif dalam pesta demokrasi ini. tapi banyak pula yang bertengkar, memutuskan tali pertemanan, persaudaraan. padahal siapapun presidennya tidak akan mengubah nasib kita, kecuali kita sendiri yang berusaha mengubahnya.. sangat jelas ayat ayat suci Al quran menerangkan hal ini, petunjuk bagi mereka yang beriman. jadi ngapain pusing-pusing mikirin presiden tiap hari. kalau ada yang menjelekkan pasangan pilihan kita langsung saja.. sakit hati, merasa terhina dll. woles saja... ngga usah dipikirin. masih banyak yang harus dikerjakan, dipikirin, jangan sampai tenaga dan pikiran kita habis untuk itu.  banyak yang bilang jangan saling mejelekkan dan tidak suka dengan kampanya hitam seperti itu... tapi yang terjadi malah sebaliknya. Katanya jangan ada perpecahan, katanya jangan suka mencela atau menjelekan orang. Tapi kok terus dibahas. Menimbulkan perpecahan, permusuhan, situasi jadi panas tidak menyenangkan. Kenapa begitu? Ya Karna selalu dibahas, seperti tidak ada hal yang lebih penting dari itu. Tidak perlu memulai untuk membahas hal itu kelesss.. Siapapun pilihannya, ya sudah simpan dalam hati. Diam. Suarakan pada tempatnya di TPS. Kalau memang ingin dibahas, ya bahas saja dengan orang yang sependapat, selesai sudah dan tidak membuat hati gondok/pikiran panas. Tentukan sendiri Presidennya, toh tidak ada orang yang sempurna. Masing-masing punya kekurangan, aib, dan kelebihan, tinggal kita sendiri yang tentuin mana yang lebih baik diantara kekurangan dan kelebihan itu. Kalau nanti yang terpilih, ternyata tidak juga amanah.. baru menyesal… haduuuh. Please deh, akan terlihat orang yang bisa menahan diri. menahan diri untuk tidak cepat marah dan dapat menguasai emosi.. saya kira itu adalah ciri ciri orang yang dewasa dan bijak dalam bersikap. jadi
pilihan presidennya taro di hati aja ya...


Contoh kasus penyakit periodontal



A.    Skenario 1
1.      Pemeriksaan Subjektif
a.       CC       : Datang kembali setelah mendapatkan perawatan scaling 1 minggu yang lalu.
b.      PI        : Pertama kali datang Danti mengalami pembengkakan gusi di gigi depan rahang atas dan rahang bawah. Keadaan tersebut dirasakan sejak 2 bulan yang lalu ketika Danti mulai sering merasakan  gusi berdarah dan bau mulut karena kesulitan ketika membersihkan gusi. Saat ini tidak ada perubahan pada kondisi gingiva Danti.
c.       PDH    : Satu minggu yang lalu mendapat perawatan scaling. Danti menggunakan fixed orthodontics appliance. Pemberian oxyfresh 2 kali sehari untuk mengurangi peradangan.
d.      PMH   : Tidak ada keterangan
e.       FH       : Tidak ada keterangan
f.       SH       : Tidak ada keterangan
2.      Pemeriksaan Intraoral
Terdapat pembengkakan pada region anterior rahang atas dan bawah. Perdarahan saat probing masih terjadi dan masih terlihat penumpukan kalkulus dan plak tipis di permukaan gigi anterior rahang atas dan bawah. Kedalaman poket pada region anterior RA dan RB sekitar 4-6 mm dengan level of attachment 2-4 mm.
Gambar 1.1 Intraoral pasien 1 minggu setelah prosedur scaling

3.      Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografi menunjukan tulang alveolar yang utuh dan lamina dura utuh.
4.      Differential Diagnosis
a.       Chronic inflammatory enlargement et causa fixed orthodontic appliance
      Tampak pembengkakan pada interdental papilla dan marginal gingiva. Pembengkakan dapat terus melebar atau membesar hingga menutupi sebagian mahkota gigi. Pembengkakan dapat terjadi secara lokal dan general. Proses perkembangan pembengkakan terjadi secara lambat dan tidak terdapat rasa sakit. Pembengkakan terjadi karena paparan yang lama terhadap plak. Plak atau akumulasi plak yang cukup banyak dan lama. Umumnya akumulasi plak terjadi karena kebersihan mulut atau oral hygine buruk, penggunaan alat orthodonti dan iritasi yang disebabkan restorasi. Karakteristik dari pembengkakan ini adalah tidak bertangkai (Newman, 2012).
b.      Idiopatik fibromatosis
      Pembesaran gingiva yang terjadi pada attached gingiva, margin gingiva dan interdental papillae baik lingual atau fasial rahang atas dan rahang bawah. Pembesaran pada gingiva berwarna merah muda, lunak dan konsistensi seperti kulit. Mahkota dapat hampir tertutup pada kondisi yang parah. Penyebab terjadinya idiopatik fibromatosis masih belum diketahui dan beberapa kasus termasuk herediter. Umumnya pembesaran terjadi saat erupsi gigi dan berkurang setelah ekstraksi. Hal ini menunjukan adanya faktor pencetus berupa plak. (Newman dkk., 2012).
c.       Drug induced gingival enlargement
      Pembesaran pada papilla interdental yang dapat berlanjut ke daerah facial dan lingal/palatal gingiva. Pembesaran disebabkan karena obat seperti anticonvulsants, imunosupresants, dan calcium channel blockers (Newman dkk, 2012).
d.      Gingival enlargement et causa deficiency vitamin C
      Pembesaran pada gingiva, berwarna merah dengan permukaan mengkilat dan halus. Pembesaran disebabkan kekurangan vitamin C dan adanya akumulasi plak. Umumnya tampak area yang mengal, berwarna merah dengan permukaan mengkilat dan halus. Pembesaran disebabkan kekurangan vitamin C dan adanya akumulasi plak. Biasanya terdapat area yang mengalami nekrose permukaan (Newman dkk., 2012).
5.      Diagnosis
Chronic inflammatory enlargement
6.      Pembahasan yang berisi analisa penentuan diagnosis
Chronic inflammatory enlargement menjadi diagnosis karena sesuai dengan kondisi pada kasus. Pembesaran gingiva pada kasus terjadi dikarenakan penumpukan plak. Hal ini terjadi karena pasien menggunakan alat orthodontic sehingga kesulitan dalam membersihkan gusi atau rongga mulut. Pembesaran terjadi di daerah interdental dan margin gingiva. Diagnosis ini juga diperkuat dengan adanya pemeriksaan radiografi yang menunjukan tidak adanya resopsi tulang dan lamina dura masih utuh. Idiopatik fibrosis tidak terpilih menjadi diagnosis karena penyebab penyakit pada kasus telah diketahui karena adanya plak, dan bukan herediter. Hal ini diketahui karena tidak terdapat keterangan bahwa keluarga mengalami hal serupa.
Drug induced gingival enlargement tidak terpilih menjadi diagnosis karena pada kasus tidak didapatkan keterangan bahwa pasien mengkonsumsi obat tertentu dan umumnya bila terinduksi obat pembesaran terjadi merata. Gingival enlargement et causa deficiency vitamin C juga tidak terpilih menjadi diagnosis dikarenakan, pada kasus, pasien tidak memiliki keterangan kekurangan vitamin C atau kesulitan memakan sayur dan buah.
7.      Prognosis
      Prognosis dalam kasus ini adalah good atau baik. Hal ini dikarenakan pasien kooperatif, kondisi tulang pendukung alveolar kuat, tidak resopsi. Dan tidak terdapat kegoyahan pada gigi (Newman dkk., 2012).
8.      Rencana perawatan
a.       Fase 1
      Scaling root planning untuk menghilangkan plak dan kalkulus. Pemberian obat kumur Oxyfresh, digunakan 2 kali sehari, Pemberian medikamentosa berupa NSAID guna mengurangi rasa sakit setelah scaling
b.      Evaluasi
      Evaluasi perawatan pada fase 1 apakah sudah berjalan dengan baik. Pemeriksaan pada permukaan gigi untuk melihat ada atau tidaknya kalkulus, resesi pada jaringan lunak dan attach gingiva. Perawatan tidak dapat dilakukan selama masih terdapat akumulasi plak, kalkulus dan peradangan. (Newman dkk., 2012).
c.       Fase IV
      Pemeriksaan atau evaluasi kembali untuk melihat apakah jaringan siap untuk dilakukan tindakan bedah. Tidak terdapat akumulasi plak dan kalkulus. Tidak terdapat peradangan pada gingiva dan jaringan fibrous, kenyal (Newman dkk., 2012).
d.      Fase II
      Gingivektomi pada kasus dilakukan untuk menghilangkan poket gingiva. Prosedur ini dilanjutkan dengan gingivoplasty guna membentuk kontur fisiologis gingiva agar mencegah kambuhnya penyakit. Gingivektomi yang dilakukan pada kasus memiliki indikasi berupa hyperplasia jaringan dalam kondisi fibrous. Kontraindikasi pada prosedur gingivektomi adalah kedalaman poket lebih apikal dari mukogingival junction, indikasi perawatan cacat infraboni, gingiva cekat atau keratin tidak tersedia (Fedi dkk., 2012).
e.       Fase IV
      Melakukan evaluasi kembali dan memantau proses penyembuhan. Probing selama proses penyembuhan dapat dilakukan pada minggu ke 7 agar tidak merusak proses penyembuhan

B.     Skenario 2
1.      Pemeriksaan subjektif
a.       CC       : Kunjungan kedua setelah 1 minggu yang lalu melakukan perawatan.
b.      PI        : Pasien sebelumnya mengalami kegoyahan pada gigi belakang kanan atas. Gigi belakang kanan bawahnya berlubang besar dan menjadi tidak nyaman jika digunakan untuk mengunyah.
c.       PDH    : Satu minggu yang lalu mendapatkan perawatan scaling dan root planning serta instruksi menggunakan obat kumur minosep.
d.      PMH   : Tidak ada keterangan
e.       FH       : Tidak ada keterangan
f.       SH       : Pasien sering mengunyah sebelah kiri
2.      Pemeriksaan Intraoral
Hasil pemeriksaan menunjukan adanya gigi 16 yang goyah derajat 2 dan terlihat penumpukan kalkulus di gigi 14, 15, 16 dan 17. Terlihat juga penumpukan pada kalkulus pada gigi 44, 45, 46 dan 47. Kedalaman poket pada gigi 44 – 47 sekitar 2 – 4 mm dengan loss of attachment sebesar 3 – 4 mm. Tidak terlihat kegoyahan selain pada gigi 16. Saat ini tampak penumpukan kalkulus dan plak tipis pada permukaan gigi posterior atas kanan dan bawah kanan, kegoyahan pada gigi 16 hanya mengalami sedikit perbaikan. Kondisi gingival tidak mengalami perubahan.

Gambar 1.2 gambaran intraoral 1 minggu paska scaling (a). permukaan labial; (b). permukaan palatal

3.      Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografi periapikal untuk gigi 16 terlihat ada penurunan tulang alveolar di sebagian mesial dan distal dengan pola horizontal sehingga hanya tersisa tulang alveolar setengah permukaan akar.
4.      Differential Diagnosis
a.       Periodontitis Kronis
      Gambaran umum dari periodontitis kronis adalah berupa akumulasi plak yang berhubungan dengan formasi kalkulus, peradangan pada gingiva saat di probing atau BOP, terdapat poket, kehilangan perlekatan dan kehilangan tulang alveolar. Akumulasi plak terdapat di supragingiva dan subgingiva. Umumnya gingiva membengkak dan berwarna merah magenta dan tidak terdapat stippling. Penampakan gambaran radiografi pada periodontitis kronis adalah hilangnya lamina dura, pelebaran periodontal space dan menurunnya tulang alveolar. Proses terjadinya periodontal ini berlangsung lama. (Newman dkk., 2002)
b.      Periodontitis agresif
      Periodontitis agresif memiliki gambaran klinis berupa kehilangan perlekatan dan terbentuk poket periodontal. Pemeriksaan radiografi menunjukan resopsi tulang alveolar (Reddy, 2006).

5.      Diagnosis
Periodontitis kronis
6.      Pembahasan yang berisi analisa penentuan diagnose
Periodontitis kronis terpilih menjadi diagnosis karena sesuai dengan kondisi pasien pada kasus 2. Pasien memiliki kalkulus dan akumulasi plak yang cukup banyak pada gigi region posterior rahang atas dan bawah kanan. Tampak kegoyangan gigi derajat 2 pada gigi 16 dan resopsi tulang dengan pola horizontal pada pemeriksaan radiografi. Hal ini sesuai dengan ciri dari periodontitis kronis yaitu adanya poket, kehilangan perlekatan dan kehilangan tulang alveolar. Akumulasi plak terdapat di supragingiva dan subgingiva. Umumnya gingiva membengkak dan berwarna merah magenta dan tidak terdapat stippling. Gambaran radiografi pada periodontitis kronis adalah hilangnya lamina dura, pelebaran periodontal space dan menurunnya tulang alveolar. Periodontitis agresif tidak dipilih menjadi diagnosis karena umumnya dengan akumulasi plak yang sedikit terjadi kerusakan jaringan periodontal yang parah dan berlangsung cepat, dialami orang berusia kurang dari 30 tahun.
7.      Prognosis
      Prognosis kasus ini adalah fair atau sedang. Hal ini dikarenakan pada kasus telah terjadi kegoyahan gigi derajat 2, furcation involvement grade 1, resopsi tulang alveolar, pasien kooperatif. Kooperatif pasien ditandai dengan bersedia datang  kunjungan kedua (Newman dkk., 2012).
8.      Rencana Perawatan
a.       Fase I
      Perawatan yang telah dilakukan adalah scaling dan root planning dan pemberian obat kumur minosep. Memperbaiki tumpatan yang overhanging dan menumpat gigi yang berlubang.
b.      Evaluasi
      Evaluasi dilakukan terhadap hasil perawatan fase 1. Pada fase ini dilakukan pemeriksaan terhadap plak, restorasi yang tidak sempurna dan adanya peradangan. Perawatan tahap selanjutnya tidak dapat dilakukan bila hasil evaluasi terhadap fase 1 belum berhasil.
c.       Fase IV
      Fase ini dilakukan perawatan agar jaringan siap menuju tahap pembedahan. Selama fase ini diharapkan tidak terdapat plak dan kalkulus. Kondisi jaringan periodontal tidak dalam peradangan dan restorasi dalam keadaan baik.
d.      Fase II
      Pembedahan dilakukan dengan pembuatan flap untuk membuka gingiva agar mendapat visualisasi dan akses yang baik. Flap digunakan dengan teknik full thicknes kemudian lakukan scaling dan root planning untuk membuang plak dan kalkulus yang dalam. Aplikasikan bone graft atau enamel matriks protein untuk membantu pertumbuhan tulang alveolar. Kembalikan flap dengan posisi yang benar dan lakukan suturing. Indikasi flap pada kasus adalah adanya poket supraboni dengan kedalaman sedang hingga moderat dan region anterior yang memiliki pertimbangan estetik. Kontraindikasi pada flap adalah kurangnya daerah jaringan berkeratin, adanya poket palsu dan cacat tulang yang membutuhkan koreksi (Fedi dkk., 2012). Splinting dibutuhkan dalam perawatan kasus 2 untuk mengontrol mobilitas dan menopang jaringan yang lemah. Hal ini dimaksudkan untuk membantu gigi berfungsi dengan baik dan membantu proses pemulihan luka (Manson, 2013).
e.       Fase IV
      Fase ini dilakukan perawatan dan pemantauan terhadap proses penyembuhan jaringan serta menjaga kebersihan mulut pasien. Satu minggu setelah operasi dapat dilakukan pelepasan jahitan. Evaluasi restorasi, mobilitas gigi, status gingiva dan jaringan periodontal. Pemeriksaan radiografi dilakukan untuk menentukan proses penyembuhan dan waktu kunjungan (Newman dkk., 2012).


Daftar pustaka

Fedi, P. F., Vernino, A. R., Gray, J. L., 2012, Silabus Periodonti, EGC, Jakarta.
Manson, J. D., 2013, Buku Ajar Periodonti, EGC, Jakarta.
Newman, M. G., Takei, H. H., Carranza, F. A., 2002, Carranza’s Clinical Periodontology, Elsevier, Philadelpia.
Reddy, S., 2006, Essential of Clinical Periodontology and Periodontics, Jaypee, New Delhi.

Selasa, 03 Juni 2014


Pesan Nabi:


a.       Silahturahmi dapat menambah umur dan sedekah dapat menubah takdir mubram ( HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
b.      Tidak ada yang dapat menolak takdir Allah, selain doa. Dan tidak ada yang dapat menabah umur selain kebaikan ( HR Tirmidzi )
c.   Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak takdir selain doa ( HR Tirmidzi )