Jauhi Prasangka!!
Dalam kehidupan sering kita menghadapi atau menjumpai situasi yang tidak
menyenangkan. Baik dalam kehidupan sekolah, kuliah, bekerja ataupun
bersosialisasi dengan sekitar. Kalimat tidak menyenangkan memiliki arti suatu
keadaan yang tidak diinginkan-tidak nyaman-dan mungkin menjadi beban pikiran. Hal-hal
tidak menyenangkan dapat datang dalam bentuk apapun. Dibohongi teman, mengalami
kerugaian dalam usaha, atau mengalami fitnah. Bentuk yang terakhir merupakan
bentuk ‘tidak menyenangkan’ dengan nilai yang paling berat. Bagaimana tidak? umumnya
Kepribadian seseorang dinilai dari sikap atau pribadi dalam keseharian dan pendapat
atau asumsi orang lain.
Alkisah di sebuah negeri ada seorang bapak dan anak yang hendak
berpergian ke suatu tempat. Mereka pergi dengan mengendarai seekor keledai. Bapak
dan anak tersebut pergi menunggangi keledai, hingga dalam perjalanan mereka
mendengar seorang pejalan kaki yang berkata kepada temannya “hei lihat bapak
dan anak itu, mereka sungguh tega menunggangi keledai yang sudah tua”. Mendengar hal tersebut
si bapak pun turun dari keledai dan tetap membiarkan anaknya berada diatas
menunggangi keledai. Setelah beberapa
lama terdengar orang yang berkata “lihatlah, anak itu sangat tidak sopan, membiarkan ayahnya
berjalan sementara ia dengan nyamannya duduk diatas keledai”. Mendengar hal
tersebut si bapak kemudian menurunkan anaknya. Bapak tersebut pun naik keatas
keledai dan melanjutkan perjalanan kembali. Kemudian terdengarlah suara dari kerumunan
orang yang melihat mereka “sungguh tega sekali bapak itu, membiarkan anaknya
berjalan sedangkan ia duduk dengan nyaman diatas keledai”. Kemudian setelah
mendengar perkataan itu, si bapak turun dan kembali melanjutkan perjalanan. Bapak
tersebut melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki berama anaknya dan keledai. Kemudian, beberapa orang yang
melihat bapak dan anak tersebut lewat, berkata kepada temannya “sungguh bodoh
bapak dan anak itu, mereka berjalan kaki padahal memiliki keledai yang dapat
ditunggangi”. Mendengar hal tersebut si
bapak kemudian berkata kepada anaknya. “Nak dengarlah dan lihatlah sekelilingmu,
dalam setiap apapun tindakan kita pasti akan selalu ada yang membicarakan atau
memberi kritik kepada kita. Sekarang tinggal bagaimana kita akan menyikapinya”.
Sejatinya banyak pesan moral yang dapat kita ambil dari kisah ini. Dalam kehidupan
banyak sekali kita jumpai keadaan seperti cerita diatas. Menjadi bahan
perbincangan orang lain yang belum tentu benar dan sulit membuat keputusan yang
menyenangkan banyak pihak.
Pertama. Menjadi perbincangan orang lain (Kritik). Berbicara adalah salah
satu cara manusia sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan sesama. Berbicara
juga merupakan cara menyatakan pendapat yang kita yakini dan pahami agar dapat
diterima atau oleh orang lain. Dalam kehidupan, banyak sekali orang berbicara
hanya berdasarkan apa yang dia lihat sesaat, tanpa ditelaah. Padahal belum
tentu apa yang dilihat mata tepat sesuai kenyataan yang terjadi. Tentu hal ini
bukanlah tindakan yang bijak dilakukan karena akan menimbulkan prasangka bahkan
fitnah. Kita tahu dalam petunjuk agama islam bahwa sebagian prasangka adalah
dosa. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu
menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan
bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.” [Al-Hujurat 12].
Pada hakikatnya ketika berprsangka, belum
diketahui kebenarannya. Sehingga prasangka dapat menjadi berita bohong atau
fitnah kepada orang yang disangkakan. Sesungguhnya jika kita tidak memahami
suatu persoalan dengan baik, hendaklah kita diam. Sungguh telah diketahui
nasihat lama yang mungkin banyak diabaikan dalam kehidupan. Berkatalah dengan
baik atau diam. Kita tentu diharapkan dapat memahami kapan harus berbicara dan
kapan harus diam dalam menanggapi suatu kondisi.
Kedua. Sulit membuat keputusan. Keputusan dibutuhkan dalam menentukan
suatu perkara apakah dilakukan atau tidak. Ketika membuat keputusan tentu akan
memiliki dampak positif atau negatif. Akan ada orang yang setuju maupun tidak
setuju, akan ada orang yang pro dan kontra. Membuat keputusan tidaklah mudah,
terutama bila kita hidup dalam masyarakat yang sangat majemuk. Adakalanya kita membuat keputusan dengan
mendengar perkataan orang lain namun adakalanya pula kita tetap teguh dengan
pendirian kita. Jika kritik dan saran yang diberikan adalah hal yang bagus dan
bermanfaat tidak ada salahnya kita coba saran tersebut atau ditambahkan saat
kita mengambil keputusan. Namun bila kritik dan saran yang diberikan tidak
bersifat membangun dan tidak sesuai dengan prinsip kebaikan, maka
tinggalkanlah. Ambilah keputusan yang benar secara prisip dan memiliki kemantapan
hati. Hal ini dilakukan karena kita tidak dapat memuaskan semua satu pihak
dengan keputusan yang kita ambil. Pilihlah keputusan yang tepat dengan
menajamkan pikiran dan kemantapan hati.
06.15
Unknown
0 komentar :
Posting Komentar