Kamis, 12 Februari 2015

Jauhi Prasangka!!

Dalam kehidupan sering kita menghadapi atau menjumpai situasi yang tidak menyenangkan. Baik dalam kehidupan sekolah, kuliah, bekerja ataupun bersosialisasi dengan sekitar. Kalimat tidak menyenangkan memiliki arti suatu keadaan yang tidak diinginkan-tidak nyaman-dan mungkin menjadi beban pikiran. Hal-hal tidak menyenangkan dapat datang dalam bentuk apapun. Dibohongi teman, mengalami kerugaian dalam usaha, atau mengalami fitnah. Bentuk yang terakhir merupakan bentuk ‘tidak menyenangkan’ dengan nilai yang paling berat. Bagaimana tidak? umumnya Kepribadian seseorang dinilai dari sikap atau pribadi dalam keseharian dan pendapat atau asumsi orang lain.

Alkisah di sebuah negeri ada seorang bapak dan anak yang hendak berpergian ke suatu tempat. Mereka pergi dengan mengendarai seekor keledai. Bapak dan anak tersebut pergi menunggangi keledai, hingga dalam perjalanan mereka mendengar seorang pejalan kaki yang berkata kepada temannya “hei lihat bapak dan anak itu, mereka sungguh tega menunggangi  keledai yang sudah tua”. Mendengar hal tersebut si bapak pun turun dari keledai dan tetap membiarkan anaknya berada diatas menunggangi keledai.  Setelah beberapa lama terdengar orang yang berkata “lihatlah, anak itu  sangat tidak sopan, membiarkan ayahnya berjalan sementara ia dengan nyamannya duduk diatas keledai”. Mendengar hal tersebut si bapak kemudian menurunkan anaknya. Bapak tersebut pun naik keatas keledai dan melanjutkan perjalanan kembali. Kemudian terdengarlah suara dari kerumunan orang yang melihat mereka “sungguh tega sekali bapak itu, membiarkan anaknya berjalan sedangkan ia duduk dengan nyaman diatas keledai”. Kemudian setelah mendengar perkataan itu, si bapak turun dan kembali melanjutkan perjalanan. Bapak tersebut melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki berama anaknya  dan keledai. Kemudian, beberapa orang yang melihat bapak dan anak tersebut lewat, berkata kepada temannya “sungguh bodoh bapak dan anak itu, mereka berjalan kaki padahal memiliki keledai yang dapat ditunggangi”.  Mendengar hal tersebut si bapak kemudian berkata kepada anaknya. “Nak dengarlah dan lihatlah sekelilingmu, dalam setiap apapun tindakan kita pasti akan selalu ada yang membicarakan atau memberi kritik kepada kita. Sekarang tinggal bagaimana kita akan menyikapinya”.

Sejatinya banyak pesan moral yang dapat kita ambil dari kisah ini. Dalam kehidupan banyak sekali kita jumpai keadaan seperti cerita diatas. Menjadi bahan perbincangan orang lain yang belum tentu benar dan sulit membuat keputusan yang menyenangkan banyak pihak.

Pertama. Menjadi perbincangan orang lain (Kritik). Berbicara adalah salah satu cara manusia sebagai makhluk sosial dalam berinteraksi dengan sesama. Berbicara juga merupakan cara menyatakan pendapat yang kita yakini dan pahami agar dapat diterima atau oleh orang lain. Dalam kehidupan, banyak sekali orang berbicara hanya berdasarkan apa yang dia lihat sesaat, tanpa ditelaah. Padahal belum tentu apa yang dilihat mata tepat sesuai kenyataan yang terjadi. Tentu hal ini bukanlah tindakan yang bijak dilakukan karena akan menimbulkan prasangka bahkan fitnah. Kita tahu dalam petunjuk agama islam bahwa sebagian prasangka adalah dosa. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujurat 12].

Pada hakikatnya ketika berprsangka, belum diketahui kebenarannya. Sehingga prasangka dapat menjadi berita bohong atau fitnah kepada orang yang disangkakan. Sesungguhnya jika kita tidak memahami suatu persoalan dengan baik, hendaklah kita diam. Sungguh telah diketahui nasihat lama yang mungkin banyak diabaikan dalam kehidupan. Berkatalah dengan baik atau diam. Kita tentu diharapkan dapat memahami kapan harus berbicara dan kapan harus diam dalam menanggapi suatu kondisi.


Kedua. Sulit membuat keputusan. Keputusan dibutuhkan dalam menentukan suatu perkara  apakah dilakukan atau tidak. Ketika membuat keputusan tentu akan memiliki dampak positif atau negatif. Akan ada orang yang setuju maupun tidak setuju, akan ada orang yang pro dan kontra. Membuat keputusan tidaklah mudah, terutama bila kita hidup dalam masyarakat yang sangat majemuk.  Adakalanya kita membuat keputusan dengan mendengar perkataan orang lain namun adakalanya pula kita tetap teguh dengan pendirian kita. Jika kritik dan saran yang diberikan adalah hal yang bagus dan bermanfaat tidak ada salahnya kita coba saran tersebut atau ditambahkan saat kita mengambil keputusan. Namun bila kritik dan saran yang diberikan tidak bersifat membangun dan tidak sesuai dengan prinsip kebaikan, maka tinggalkanlah. Ambilah keputusan yang benar secara prisip dan memiliki kemantapan hati. Hal ini dilakukan karena kita tidak dapat memuaskan semua satu pihak dengan keputusan yang kita ambil. Pilihlah keputusan yang tepat dengan menajamkan pikiran dan kemantapan hati.

0 komentar :

Posting Komentar